Mahasiswa Unesa Menggagas Konsep Laboratorium Metaverse Futuristik Terintegrasi Teslasuit dan Kecerdasan Buatan

mp.fip.unesa.ac.id – Friday (3/11/2023) Rendahnya
kompetensi sains merupakan salah satu masalah generasi muda di tanah air.
Mengacu pada problem inilah, pada 1 November 2023, tiga mahasiswa Universitas
Negeri Surabaya menggagas konsep Metaverse-Smart Science Laboratory
(MSSL), yakni laboratorium sains futuristik yang dikonstruksikan melalui
platform metaverse dalam rupa virtual.
Tiga mahasiswa
tersebut adalah Cahyo Febri Wijaksono dari S1 Manajemen Pendidikan, Riski
Ramadani dari S1 Fisika, dan Muhammad Luqmanul Hakim dari S1 Pendidikan Guru
Sekolah Dasar, dengan dosen pembimbing Bapak Muamar Zainul Arif, S.Pd., M.Pd.
dari prodi S1 Pendidikan Teknik Mesin.
Cahyo Febri
Wijaksono, ketua dari penggagas konsep MSSL, menyatakan sumber gagasan tersebut
bermula dari temuannya terkait literatur hasil survei PISA yang menunjukkan
bahwa pada 2018, Indonesia berada pada urutan ke-71 alias peringkat kesembilan
dari bawah dalam hal kemampuan sains (OECD, 2018).
“Peserta didik di
Indonesia mendapat skor sains sebesar 396 atau lebih lebih rendah dari
rata-rata OECD yaitu 489. Ini masalah yang sangat vital, karena ilmu sains
adalah pondasi bagi pengembangan kemampuan berpikir ilmiah, serta menjadi dasar
bagi pengembangan teknologi.” tegasnya.
MSSL
menggabungkan tiga jenis laboratorium sains, yaitu laboratorium fisika berupa
Haptic Phsysics Universe (HPU), laboratorium kimia berupa Haptic Chemical
Universe (HCU), serta laboratorium biologi berupa Haptic Biosphere Universe
(HBU). Cahyo menyampaikan, bahwa hambatan umum yang biasa muncul ketika
mengakses fasilitas virtual adalah keterbatasan interaksi fisik dan kurangnya
fleksibilitas sistem. Maka, MSSL memiliki inovasi untuk mengatasi hambatan
tersebut melalui integrasi Teslasuit.
“MSSL dapat
diintegrasikan dengan Teslasuit yang merupakan perangkat wearable berbentuk
pakaian, terdiri dari empat belas sensor Inertial Measurement Unit (IMU) yang
dapat mengidentifikasi gerakan dan memberikan umpan balik fisik, termasuk suhu
dan getaran kepada tubuh pengguna. Jadi misalnya, ketika peserta didik
melakukan praktik membedah tubuh hewan di MSSL, mereka akan merasakan sensasi
sentuhan fisik dengan tekstur dan detail yang nyata.” tuturnya.
Selain itu, MSSL
didukung Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi
kinerjanya, sehingga MSSL mampu melakukan pemrosesan data yang kompleks dan
mempelajari pola-pola dalam dataset yang besar. Selain itu, integrasi AI pada
MSSL juga memungkinkan adanya penyesuaian adaptif terhadap kebutuhan pengguna.
Seluruh kemampuan ini menjadikan MSSL sebagai laboratorium cerdas yang
berpotensi mendorong perkembangan kompetensi sains peserta didik di masa depan.