Ekspresi Iman dan Budaya: Mahasiswi UNESA Gaungkan Maulid di Ajang MTQ
Mp.fip.unesa.ac.id – Kamis (6/11/25) –Sabrina Imelda Putri turut ambil
bagian dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kampus sebagai
salah satu bentuk pelestarian tradisi keagamaan. Salah satu peserta
menyampaikan bahwa keikutsertaannya dalam lomba ini berawal dari dorongan untuk
menjaga seni pembacaan Maulid Nabi yang telah lama hidup dalam lingkungan
pesantren. Ia memandang MTQ bukan hanya kompetisi, tetapi wadah untuk
menampilkan kecintaan kepada Rasulullah melalui lantunan syair pujian. Selain
itu, kesempatan ini menjadi jalan untuk menambah pengalaman tampil di hadapan
publik dan memperkenalkan warisan seni Islam kepada lingkungan kampus. Dengan
demikian, kegiatan ini bukan sekadar perlombaan, tetapi juga bentuk pengabdian
terhadap tradisi yang bernilai spiritual.
Pada ajang tersebut, cabang yang diikuti adalah Seni Maulid Nabi, sebuah
bidang yang sangat dekat dengan latar belajarnya dipondok pesantren.
Syair-syair yang mengagungkan Nabi Muhammad terasa begitu akrab sehingga
pembacaan Maulid menjadi ruang ekspresi yang alami dan penuh makna. Baginya,
Maulid bukan sekadar rangkaian nada dan lirik, melainkan penyampaian rasa
hormat, rindu, dan cinta kepada sosok teladan umat. Melalui ajang MTQ, ia
berharap seni ini dapat terus dikenal dan diapresiasi oleh lebih banyak kalangan,
terutama di lingkungan mahasiswa. Pengalaman ini menjadi momentum untuk
menghidupkan kembali tradisi yang hangat dan sarat nilai keagamaan.
Persiapan dilakukan secara sederhana namun intensif bersama dua rekan
lainnya. Mereka memanfaatkan waktu liburan untuk berlatih di ruang asrama yang
kosong, menyusun irama, membagi suara, serta menyesuaikan tempo pembacaan.
Tidak ada pelatih khusus, namun pengalaman di pesantren menjadi modal utama
dalam mengatur teknik vokal dan kekompakan suara. Latihan dilakukan secara
bertahap dan berulang hingga setiap bagian terasa selaras. Proses ini membangun
kedisiplinan, kerja sama, dan rasa percaya diri menjelang penampilan.
Tantangan utama muncul ketika harus tampil di hadapan juri dan audiens.
Menjaga kestabilan suara serta kekompakan tempo menjadi hal yang harus
diperhatikan sejak awal. Selain itu, suasana panggung dan perhatian banyak
orang memunculkan rasa gugup yang cukup besar, terlebih karena kelompoknya
merupakan satu-satunya peserta perempuan. Namun dengan pengaturan napas dan
saling menguatkan, penampilan dapat berlangsung dengan baik. Dari pengalaman
tersebut, ia menyimpulkan bahwa kesungguhan dalam berlatih tidak akan
mengkhianati hasil, dan yang terpenting adalah niat tulus dalam memuliakan Nabi
melalui seni yang telah lama menjadi tradisi umat.(fie)