Dari Diskusi ke Kompetisi: Mahasiswi MP Berdayakan Gagasan Melalui Debat
Mp.fip.unesa.ac.id – Kamis (6/11/25)
Mahasiswi Universitas Negeri Surabaya atas nama Aulia Ramadhani, Rismananda
Chelsea Khahanaya, dan Azizah Lailatus Syifa’ berhasil menunjukkan kemampuan
berpikir kritis dan keterampilan komunikasi dalam ajang Lomba Debat Bahasa
Indonesia. Keikutsertaan mereka didorong oleh keinginan untuk mengasah
kepercayaan diri dalam berbicara di depan umum serta memperdalam kemampuan
menganalisis isu-isu sosial dan pendidikan yang sedang berkembang. Bagi tim
ini, debat bukan hanya sekadar perlombaan, tetapi juga sarana untuk keluar dari
zona nyaman dan melatih keberanian dalam menyampaikan pendapat secara logis dan
meyakinkan. Semangat mereka juga tumbuh dari kekaguman terhadap para debater
yang tampil total dalam persiapan hingga penyampaian argumen. Dorongan tersebut
membuat mereka semakin termotivasi untuk terus belajar dan berkembang meski
berasal dari latar akademik yang berbeda-beda.
Dalam struktur tim, peran tiap anggota telah tersusun dengan jelas.
Pembicara pertama bertugas mengawali debat dengan memaparkan mosi dan dasar
argumen, pembicara kedua memperkuat argumen sekaligus menanggapi serangan pihak
lawan, sedangkan pembicara ketiga—yang menjadi posisi kunci—menutup debat
dengan merangkum keseluruhan argumen dan memastikan posisi tim tetap kuat. Pada
bagian penutup inilah kemampuan analisis dan ketegasan berperan besar. Mereka
berlatih secara intensif melalui simulasi debat, penyusunan alur argumentasi,
hingga latihan improvisasi untuk menghadapi dinamika debat yang kerap berubah
cepat. Latihan-latihan ini membantu mereka memahami bagaimana menyampaikan
kesimpulan yang padat, kuat, dan mampu meyakinkan juri.
Namun perjalanan debat tentu tidak lepas dari tantangan. Tim ini mengaku
bahwa menjaga ketenangan di tengah tekanan persaingan menjadi hal yang paling
menantang. Argumen lawan yang kuat kadang dapat memicu emosi dan keraguan,
namun tetap harus dihadapi dengan tenang dan elegan agar alur debat tidak
terganggu. Selain itu, keterbatasan waktu membuat setiap anggota harus berpikir
cepat dan tepat tanpa kehilangan struktur argumen. Perbedaan cara berpikir
dalam tim juga menuntut mereka untuk mampu terbuka, saling memahami, dan
membangun satu suara yang solid.
Momen paling berkesan bagi tim adalah ketika mereka berhasil membalikkan
arah debat pada ronde yang dianggap sangat ketat. Dengan koordinasi yang kuat
dan penutupan argumen yang tepat sasaran, mereka berhasil meyakinkan juri dan
membawa pulang kemenangan. Bagi mereka, kemenangan bukan hanya soal juara,
tetapi hasil dari kerja sama, latihan, dan keberanian untuk terus berkembang.
Ketiganya sepakat bahwa debat memberikan pengalaman berharga dalam membangun
pola pikir yang kritis, sikap terbuka, dan kemampuan menghargai pendapat orang
lain. Ke depan, mereka berkomitmen untuk terus mengikuti kompetisi debat
lainnya sebagai wadah untuk tumbuh dan memperluas wawasan.(fie)