Langkah Cahyo Menembus Erasmus Mundus: Dari MP Unesa ke Empat Negara Dunia
mp.fip.unesa.ac.id – Minggu (12/10/2025). Divisi Humas
Manajemen Pendidikan kembali membawa kabar membanggakan dari salah satu
alumninya. Cahyo, lulusan Program Studi Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu
Pendidikan Universitas Negeri Surabaya angkatan 2020, berhasil meraih beasiswa
bergengsi Erasmus Mundus untuk melanjutkan studi magister di bidang Research
and Innovation in Higher Education (MARIHE) pada periode 2025–2027.
Melalui program ini, Cahyo akan menempuh perkuliahan di
empat universitas lintas negara, yaitu Universität für Weiterbildung Krems
(Austria), Tampere University (Finlandia), Beijing Normal University (China),
dan Osnabrück University of Applied Sciences (Jerman). Beasiswa ini merupakan
salah satu program unggulan Uni Eropa yang mendukung mobilitas akademik dan
riset di bidang pendidikan tinggi.
“Motivasinya
karena lebih nyaman menjalani hidup sebagai akademisi, makanya ambil S2,” ujar
Cahyo. “Aku merasa perguruan tinggi di Indonesia masih punya banyak PR yang
harus segera diselesaikan, seperti mismatch antara kurikulum universitas dengan
dunia kerja, masalah etika penelitian, dan kurang optimalnya research and
development. Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang berusaha
menyelesaikan PR-PR itu di masa depan,” tambahnya.
Menurut Cahyo, keputusan untuk memilih program Erasmus
Mundus MARIHE didasari oleh rancangan kurikulum yang unik dan kontekstual. Ia
menilai bahwa program ini memberikan kesempatan untuk mempelajari sistem
pengelolaan perguruan tinggi dari berbagai perspektif negara.
Dalam proses seleksi yang dikenal sangat kompetitif, Cahyo
mengaku tidak terlalu kesulitan dalam penyusunan CV dan portofolio karena sejak
masa studi sarjana ia telah aktif dalam berbagai kegiatan penelitian dan
inovasi pendidikan tinggi. Namun, tantangan utama justru terletak pada
bagaimana “menjahit” seluruh pengalaman tersebut menjadi linimasa yang utuh dan
relevan.
“Aku dapat
pengumuman kelulusan pas hari Valentine, 14 Februari. Mungkin ini hal yang
nggak penting, tapi buat aku jadi momen yang personal banget karena hari itu
aku resmi jadi awardee,” kenangnya sambil tertawa.
Dalam proses pendaftaran, beberapa dokumen penting yang ia
siapkan antara lain sertifikat IELTS 6.5, motivation letter, essay, Europass
CV, surat rekomendasi, ijazah, dan transkrip akademik. Ia juga mengakui bahwa
mencari informasi lengkap mengenai penyusunan dokumen menjadi salah satu
kendala karena belum ada alumni Erasmus Mundus sebelumnya dari kampusnya yang
bisa dijadikan rujukan langsung.
Ketika ditanya mengenai perasaannya setelah dinyatakan
lolos, Cahyo dengan spontan menjawab, “Seneng, terharu, adrenalin naik wkwkw.” Meski
demikian, ia tetap realistis dalam menatap masa depan studinya. “Target nggak
gede-gede, yang penting bisa lulus tepat waktu dengan IPK yang bagus, lalu
lanjut PhD. Selain itu, aku pengen banget memahami perspektif pengelolaan
perguruan tinggi dari berbagai negara yang nanti aku kunjungi,” ujarnya.
Sebagai penutup, Cahyo memberikan pesan inspiratif untuk
mahasiswa Manajemen Pendidikan yang ingin mengikuti jejaknya dalam meraih
beasiswa internasional. “Yang paling penting, punya sertifikat bahasa Inggris
dulu, karena itu pintu awal untuk daftar beasiswa. Tapi jangan berhenti di situ.
Bangun portofolio yang relevan dengan bidang yang ingin kamu tekuni, dan
pastikan pengalamanmu terdokumentasi dengan baik. Biar ketika orang lain
membaca, mereka langsung tahu bahwa kamu benar-benar cinta dengan bidang itu.”
Kisah Cahyo menjadi bukti bahwa semangat belajar dan
konsistensi dalam menekuni bidang pendidikan tinggi dapat membuka jalan menuju
peluang akademik di tingkat global. Semoga langkah Cahyo menjadi inspirasi bagi
mahasiswa Manajemen Pendidikan Unesa lainnya untuk terus berani bermimpi dan
berprestasi di kancah internasional. (hqa)