Ketika Teknologi Bertemu Empati: AI untuk Pendidikan yang Setara

mp.fip.unesa.ac.id –
Kamis (28/11/24) Artificial
Intelligence (AI) membawa harapan baru untuk menciptakan pendidikan yang
inklusif dan merata. Dengan kemampuannya menganalisis data, AI dapat menjangkau
kebutuhan siswa dari berbagai latar belakang, termasuk kelompok marjinal
seperti penyandang disabilitas. Teknologi ini mampu menghadirkan solusi
inovatif yang mendukung siswa mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan
kebutuhan mereka.
Melalui AI, alat bantu belajar
seperti aplikasi text-to-speech untuk siswa tunanetra atau alat komunikasi bagi
siswa dengan gangguan bicara telah menjadi kenyataan. Di sisi lain, AI juga
memungkinkan pendidikan berkualitas menjangkau daerah terpencil dengan
menyediakan materi pelajaran berbasis platform digital. Pendekatan ini membantu
mempersempit kesenjangan akses dan memastikan pendidikan tidak hanya menjadi
hak segelintir orang, tetapi untuk semua.
Namun, teknologi saja tidak cukup.
Empati dan pendekatan manusiawi tetap menjadi inti dari penerapan AI dalam
pendidikan. Memahami kebutuhan emosional dan sosial siswa adalah kunci untuk
memastikan bahwa teknologi ini benar-benar membantu. Penerapan AI harus
dilakukan dengan hati-hati, termasuk mempertimbangkan ketersediaan
infrastruktur, pelatihan guru, dan keamanan data untuk menghindari munculnya
kesenjangan baru.
Ketika teknologi bertemu empati, AI
dapat menjadi alat transformasi yang mengedepankan pendidikan yang adil dan
setara. Dengan mengintegrasikan inovasi teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan,
kita dapat menciptakan sistem pendidikan yang inklusif, relevan, dan siap
menghadapi tantangan masa depan. (sta/nna)